Sabtu, 01 November 2014

Teta Dear

Rabu, 20 Agustus 2014

Dimana hari itu merupakan hari paling padat (mungkin) di kampusku, ya seperti itu. Disebabkan karena dua event sekaligus dalam satu hari, registrasi mahasiswa baru dan wisuda gelombang II di pertengahan tahun. Keadaan yang sangat kontras sekali di tahun ini, disaat ada yang masuk dinyatakan sebagai mahasiswa baru UPI dengan perasaan bahagia, bangga sekaligus ada rasa tak percaya dan ada yang berbahagia, senang, lega, terharu karena kelulusannya. Suasananya sangat jelas sekali, panas? iya. Geurah? pasti, Tapi tetap ada rasa sejuk yang dirasakan, karena memang kampusku di daerah dataran tinggi.

Tapi ada satu momen yang tak akan pernah saya lupa. Momen yang kedua kali saya hadiri, momen dimana semua yang keluar dari gedung tersebut terpasang muka lega, bahagia, ceria, berbunga-bunga, dan yang pasti baju toga melekat di badan.

Jreng.. penyematan gelar dan ucapan selamat dari rektor beserta jajaran terdengar jelas dari luar gedung itu, ya gedung tinggi dan besar yang berdiri tegak di bagian belakang kampus saya, gedung itu lebih di kenal dengan Gymnasium. Gedung paling bersejarah bagi mahasiswanya, yaps. Karena gedung itu merupakan saksi bisu para mahasiswa, gedung itu adalah gedung yang pertama kali diinjak dan gedung yang terakhir diinjak dengan status yang berbeda.

Dan kali ini saya datang, tepat di teras gedung itu bukan sebagai mahasiswa baru atau mahasiswa yang diwisuda. Saya datang di tempat itu sebagai tamu atau lebih tepatnya menyambut yang telah diwisuda.

Ya, seseorang yang diwisuda itu adalah dia. Dia yang terpampang jelas di foto itu. Dia adalah seseorang yang sudah saya kenal lebih dari 10 tahun lamanya, panjang ceritanya saya kenal dengan dia dan dengan segala sifat serta sikapnya. Dia adalah seseorang yang banyak mengajarkan saya tentang betapa hidup ini adalah sebuah perjuangan yang harus disyukuri tiap harinya, ya layaknya seperti kuliah yang tiap harinya harus dinikmati dan disyukuri. Dia bukan seseorang yang sempurna, tapi dia adalah orang yang akan menjadikan saya sempurna. Kontroversi memang jika kalimat itu dikatakan dan foto itu dikeluarkan. Dia, laki-laki kedua setelah bapak yang menjadi heroku.

Biarpun banyak temanku yang tak menyenangi dia, tapi saya akan tetap menganggap dia adalah orang paling spesial di hidup saya. Dia bukan hanya sekedar spesial di mataku, tapi dia lebih dari spesial, dia itu bisa jadi kakak terbaik untukku, partner, teman curhat, teman diskusi, tempat tukar pikiran sekaligus sahabat dan everythings for him.

Dia yang memberikan warna di tiap harinya, menambah cerita di tiap lembarnya dan membuat rasa yang selalu berbeda.

For you, my lovely, my Teta Dear :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar